Saturday, 27 October 2007

Bintang..
Katakan matahari kini redup lagi dalam jiwa
Mengapa ia tak kunjung datang
Membawa cahaya baru pada amarah angkasa
Dahulu, kemarin, hingga degup jantungku kini
Berdirinya menerawang sendiri
Kabari aku pada hembus mendatang

5 November 2004

Sepinta untuk Maha

: Maha

Maha,
(maafku mengelu..)
ajakku bercinta
di kelambu esaMu

Maha,
Kemarin ia mengadu
Mata api menyala beku
Bunda hanya canda,
“ada Maha dalam ceritamu..”

Maha,

8 November 2004

Penyair Nyengir yang Hilang dalam Puisi Malaikat Kecilnya

: Dearest Ompin

Kembali pada yang lalu..

Sejarah yang tertuang tanpa saksi
Hanya kita yang mengerti
Kini sedang bercerita bisu pada Awal kita dapat tertawa

Penyair Nyengir, telah cukup lama berdiam diri
Malaikat kecil sibuk mencari puisi dalam secangkir kopi

Mungkin dunia sedang berhenti berputar
Bersiap untuk besok yang akan mengantar

Menunggu?
Mungkin dapat kembali ;)

Selasa, 26 Oktober 2004

Nostalgia: dahulu, sekarang.. dan masa depan

Seperti mimpi pada air mataku dahulu

(ini de javu)

Sentuhan,
Kurasa sama mendera bathinku

Isyarat luka
Membisik kala senandung cinta
Membelai raga, rohaniku meminta

Begitu, dahiku terpaku dalam tanah
Belum juga terlepas
Hampir tertanam jika bayang lagi datang
Meraja kelam menyatu denganku

Ini pelukanku
Terimaku menjamahmu

Selasa, 26 Oktober 2004

Wednesday, 27 June 2007

Tentang Khayangan

Dan baru kusadari
Kuinginkan seorang bidadari
Yang pelanginya tak kunjung bias
Meski diberikannya matahari

291206

Debat atas Satu Malam

: fom

Katamu mendung akan mengkubah semesta
Pada malam keangkuhan kejora
Namun mimpiku bermain
Dengan cerita sekian tahun kemarin
Dan malam ini Ia sampaikan
Satu keindahan dari keindahan
Tentang jawaban

Ya, itu terpeluk olehnya.

“Merry Christmas 2006”
241206

Kembali

: TSP

atas kemesraan puisi
ini aku
kembali ingin sedikit menelanjang diri
dalam siluet, tapi
setelah beberapa waktu
auratku kututupi
kusembunyikan dari mata dan rasamu,
tak kubagi
entah dicari

salam para pecinta dan puisi,
aku mengaku memang egoku
datang
pergi
lalu datang lagi
dan pergi lagi
demikian ia mengeja

tapi persetan!
mari kita menggila
dan membuat kekotoran di medan perang
Selagi kita dapat menjamah roh
saling merindu dan ingin mencumbu dalam puisi
saat hasrat meluap meletup
bergejolak berontak
mengusik jiwa yang bisu

atas kemesraan puisi
ini aku
kembali

Pamulang, 6-3-2005